BELI BENIH

Apa pertimbangan utama Bpk/Ibu/Sdr. dalam membeli benih tanaman, jika jenis tanaman sudah Anda tentukan ?
 
Terlanjur Senang dan Cocok Dengan Aurora 70WP
Sudah lebih dari tiga tahun Syamsul setia menggunakan fungisida Aurora 70WP untuk mengatasi masalah busuk daun pada tanaman kentangnya. Keefektifan dan kemudahan aplikasi menjadi alasan baginya enggan beralih dari fungisida dari Cap Kapal Terbang itu.

Kadung seneng lan cocok (terlanjur suka dan cocok-red), demikian dikatakan Syamsul Aji saat dimintai keterangan terkait alasannya menggunakan fungisida Aurora 70WP setiap kali tanam kentang. Terhitung sudah lebih dari tiga tahun, petani kentang di Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini selalu menggunakan fungisida kontak tersebut untuk mengatasi masalah busuk daun pada tanaman kentangnya.

Meskipun hanya sekali dalam setahun, Syamsul rutin menanam kentang di lahan seluas tiga hektar miliknya. Selain kentang, komoditas lain yang rutin ia tanam di lahannya adalah padi dan sawi putih. “Kentang biasa saya tanam setelah padi,” terangnya.

Saat ditemui Abdi Tani di kediamannya, Syamsul mengatakan, sejak awal mengenal fungisida Aurora 70WP, ia merasa langsung cocok. Alasan utamanya adalah efek positifnya terhadap pertumbuhan tanaman kentang bisa langsung terlihat. Dalam artian, selain mampu mengatasi masalah serangan busuk daun yang disebabkan cendawan Phytophtora infestans, fungisida dari Cap Kapal Terbang itu juga tidak menimbulkan dampak negatif pada pertumbuhan tanaman.

“Setelah disemprot, daunnya bisa lebih terlihat subur dan lebih tebal, serta tidak keriting. Kalau disemprot dengan fungisida yang lain biasanya pupus daunnya langsung keriting,” terang Syamsul.

Lantaran berpengaruh positif terhadap pertumbuhan itulah, katanya, proses pemulihan atau recovery tanaman kentangnya yang terserang busuk daun bisa lebih cepat dan lebih tahan. “Mungkin karena daunnya menjadi lebih subur dan tebal itu jadi tidak mudah kena busuk daun lagi,” ujarnya.

Menurut Syamsul, serangan busuk daun atau hawar daun yang parah biasanya terjadi saat hujan turun di malam hari yang disertai kabut. Kondisi lingkungan yang lembab disertai suhu lingkungan yang tidak terlalu rendah menjadi media yang nyaman bagi perkembangan cendawan Phytophtora infestans. “Biasanya serangan busuk daun muncul saat tanaman berumur lebih dari satu bulan,” kata Syamsul.

Gejala yang umum muncul saat busuk daun mulai menyerang adalah adanya bercak nekrotik pada bagian tepi dan ujung daun. Selain itu juga ada bercak berwarna abu-abu yang berukuran besar dengan bagian tengahnya agak gelap dan sedikit basah.

Sementara, jika diamati lebih lanjut, pada bagian bawah daun terdapat spora jamur yang berwarna putih seperti beludru. Pada serangan lanjut dan parah, bercak-bercak nekrotik itu akan berkembang ke seluruh daun tanaman yang akan menyebabkan tanaman tersebut mati.

Untuk mencegah dan mengatasi serangan busuk daun itu, Syamsul mulai melakukan penyemprotan Aurora 70WP saat tanaman berumur sekitar 40 hari setelah tanam dengan dosis satu sendok makan per tangki (17 L). Jika kondisi cuaca cerah, penyemprotan berikutnya dilakukan dengan interval satu minggu. Tapi jika kondisi lingkungan mendung, interval penyemprotannya lebih pendek, tiga hari sekali. "Penyemprotan biasanya sampai umur 85 hari (setelah tanam-red). Karena 10 atau 20 hari kemudian sudah panen,” terang Syamsul.

Selain lebih efektif mengatasi serangan busuk daun, formulasi fungisida kontak Aurora 70WP juga lebih mudah aplikasinya. Syamsul mengatakan, fungisida berbahan aktif Propineb 70% itu tidak mudah mengendap saat dilarutkan dengan air. “Sehingga tidak perlu sering mengaduk saat disemprotkan,” sambungnya.

Sementara itu, General Manager Product Development Pesticide PT. Tanindo Intertraco Mudjahiddin mengatakan, fungisida Aurora 70WP diformulasikan khusus untuk mengatasi serangan busuk daun (Phytophtora infestans) pada tanaman kentang dan juga serangan penyakit bercak ungu (Alternaria porri) pada bawang merah.

Menurut Mudjahiddin, Aurora 70WP yang berbahan aktif Propineb 70% merupakan fungisida yang masuk dalam kelompok ditiokarbamat yang memiliki spektrum pengendalian yang luas terhadap cendawan kelas Basidiomycetes, Ascomycetes, dan Deutromycetes.

“Fungisida ini bersifat kontak yang berfungsi sebagai protektan atau pelindung bagi tanaman yang mampu menghambat perkecambahan spora jamur,” terang Mudjahiddin.

Salah satu keunggulan fungisida kelompok ditiokarbamat, kata Mudjahiddin, yaitu wilayah kerjanya tidak hanya pada satu lokasi saja, atau yang lebih dikenal dengan sebutan multi site inhibitor. Sehingga fungisida kelompok ini tidak akan mudah menimbulkan kekebalan pada cendawan.
 


 


Powered by Joomla!. Designed by: free hosting perl celebrity list Valid XHTML and CSS.