BELI BENIH
| Senyuman Manis Petani Padang Panjang bersama Sweet Boy |
Bukan hanya mampu memberikan rasa yang manis di lidah, jagung manis Sweet Boy ternyata juga bisa mendatangkan pendapatan yang manis bagi para petani. Seperti yang dirasakan para petani di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Dari jagung manis ini mereka bisa meraup penghasilan hingga ratusan juta rupiah. Dan, senyuman manis pun langsung terpancar dari raut muka mereka.Meskipun luas wilayahnya hanya 23 km2 dan merupakan yang terkecil di antara kabupaten/kota se-Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Kotamadya Padang Panjang memiliki segudang potensi sebagai penggerak perekonomian warganya. Salah satunya adalah dari sektor pertanian. Dengan didukung struktur topografi dan geografis wilayah yang berupa kawasan pegunungan berhawa sejuk pada ketinggian antara 650 sampai 850 mdpl, kota yang juga dikenal sebagai Mesir van Andalas ini mampu menggeliat menjadi salah satu sentra pertanian utama di Sumbar. Bahkan, Kota Padang Panjang dinobatkan sebagai salah satu daerah pilot project pengembangan pertanian organik untuk komoditas padi dan sayuran. Sehingga tidak heran apabila di kota ini banyak berkembang petani-petani berbasis pertanian organik yang kemudian tergabung dalam sebuah organisasi pertanian organik. Baru-baru ini, salah satu produsen benih terbesar di Indonesia, PT. BISI International Tbk (PT. BISI), bersama dengan Gabungan Organisasi Pertanian Organik (GOPO) Shamaraat Padang Panjang menggelar sebuah acara farm field day (FFD) jagung manis Sweet Boy di Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Panjang Timur, Padang Panjang. Menurut Marketing Executive PT. BISI Sumatera Barat M. Seventius Simanjorang, acara yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Panjang, Kepala Kantor Penyuluh dan Ketahanan Pangan Kota Padang Panjang, dan beberapa jajarannya itu merupakan salah satu media pengenalan sekaligus edukasi bagi para petani tentang salah satu produk jagung manis hibrida produksi perusahaan benih yang berbasis di Kediri, Jawa Timur itu. Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Panjang Ir. Candra dalam sambutannya menilai bahwa acara tersebut sangat bagus sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani melalui usaha tani jagung manis. “Apalagi jagung manis Sweet Boy ini bisa tumbuh dengan baik di daerah dataran tinggi seperti di sini yang ketinggiannya sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Di samping itu, semua bagian dari jagung manis ini bisa dimanfaatkan, mulai dari tongkolnya yang besar dan berproduksi tinggi, sampai batang dan daunnya sendiri juga bisa dijual untuk pakan ternak. Sehingga petani bisa mendapatkan penghasilan lebih dari jagung manis ini,” terang Candra. Menurut Seventius, jagung manis hibrida Sweet Boy memang memiliki ukuran tongkol yang besar dengan rasa yang sangat manis. Kadar kemanisannya bisa mencapai 13,4% (brix). “Selain itu, Sweet Boy juga memiliki daya adaptasi yang lebih luas, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Karena, jagung manis ini lebih tahan dari serangan penyakit hawar daun dan juga karat daun,” sambungnya. Hal itu juga diakui Sy Sutan Basa, Ketua GOPO Shamaraat yang juga pengepul jagung manis. “Jagung manis ini sangat cocok untuk daerah Padang Panjang dan sekitarnya, karena daunnya tidak mudah massiek (kering-red) dan produksinya tinggi. Bijinya juga bisa penuh sampai ujung tongkol.” Sutan juga mengatakan, jagung manis yang memiliki potensi produksi hingga 16,8 ton per hektar ini rata-rata bisa menghasilkan dua tongkol dalam satu tanaman. “Kalau perawatannya bagus, kedua tongkolnya bisa besar dan seragam. Tapi kalau perawatannya biasa saja, hasilnya masih bisa masuk kelas menengah sampai besar,” terangnya. Menurut Sutan, ada tiga kelas harga jagung manis di pasaran, yaitu: kelas besar dengan harga beli di petani berkisar Rp. 1.200 – 1.300 per tongkol, kemudian kelas menengah dengan harga beli di petani berkisar Rp. 700 – 900 per tongkol, dan yang terakhir adalah kelas kecil dengan harga beli sekitar Rp. 400 – 500 per tongkol. “Tapi untuk yang kelas kecil ini sangat jarang sekali di Padang Panjang. Jadi rata-rata petani di sini hasil panen jagung manisnya sekitar Rp. 1.800 hingga Rp. 2.000 per pohon,” ungkap Sutan yang membutuhkan jagung manis hingga 2.000 tongkol per hari untuk memenuhi permintaan pedagang jagung rebus di Padang Panjang, Solok, Lubuk Alung, dan juga Padang. Sementara itu, Fitri, salah satu pedagang jagung rebus sekaligus pemilik Pondok Jagung Rebus Nadia di Padang Panjang, mengatakan, Sweet Boy memang memiliki rasa paling manis sekaligus lebih tahan simpan dibanding jagung manis lainnya. “Untuk jagung rebus, Sweet Boy yang paling manis dan padat. Di samping itu juga tahan simpan. Saya pernah simpan sampai lima hari, buahnya masih bagus dan rasanya tidak berubah, tetap manis,” ujar Fitri yang tiap harinya mampu menjual hingga 200 tongkol dengan harga sekitar Rp. 2.000 sampai Rp. 3.000 per tongkol. Jika hasil panen per pohon seharga Rp. 1.800 – Rp. 2.000, seperti yang dikatakan Sutan, maka dari lahan seluas satu hektar dengan populasi standar sekitar 100 ribu tanaman (dari ± 12 kg benih Sweet Boy), petani sudah bisa mendapatkan penghasilan antara Rp. 180 juta sampai Rp. 200 juta. Sebuah pendapatan yang tentunya tidak bisa dibilang kecil kan. Karenanya, petani pun bisa dibuat tersenyum dengan manis. Hal itulah yang mendasari para petani Padang Panjang untuk menekuni usaha tani jagung manis ini. Bahkan, menurut Sutan, penggunaan benih jagung manis Sweet Boy di kota berpenduduk sekitar 54 ribu jiwa ini telah mencapai 80 persen. “Karena memang produksinya tinggi dan hasilnya sangat menggiurkan bagi petani,” ungkap Sutan. |

Bukan hanya mampu memberikan rasa yang manis di lidah, jagung manis 