INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

MENCERMATI SENYAWA ‘PEMBAKAR’ LIDAH PADA CABAI

Rasa pedas yang ditimbulkan oleh cabai selalu memberikan sensasi kenikmatan tersendiri bagi para penikmatnya. Rasa pedas nan nikmat itu ternyata ditimbulkan oleh senyawa capsaicin yang terdapat pada buah cabai. Senyawa tersebut juga terbukti bisa memberikan ragam manfaat bagi tubuh.

Lidah orang Asia, khususnya Indonesia, tentu sudah sangat akrab dan tidak bisa dipisahkan dengan cabai. Sensasi pedas dan ‘terbakar’ yang ditimbulkannya memberikan rasa nikmat sekaligus ‘kecanduan’ setiap kali disantap bersama beragam menu makanan.

Wajar kiranya jika efek pedas dari cabai itu sampai menimbulkan ‘kecanduan’ bagi penikmatnya. Pasalnya, di dalam buah kerabat Solanaceae ini terkandung senyawa yang bernama capsaicin yang mampu membangkitkan selera makan bagi para penikmatnya.


 
Senyawa tersebut mampu merangsang keluarnya hormon endophrin dalam tubuh yang memberikan efek nikmat. Alhasil, setiap orang yang menyantap makanan berbumbu cabai biasanya akan cenderung menambah porsi makannya.

Sebenarnya apa itu capsaicin? Capsaicin (C18H27NO3) merupakan senyawa alkaloid yang termasuk di dalam golongan capsaicinoid, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa pedas yang biasa ada pada tumbuh-tumbuhan, salah satunya adalah cabai. Rasa pedas itu muncul karena senyawa tersebut memberikan isyarat ke otak hingga memunculkan sensasi rasa pedas dan panas di lidah. Senyawa capsaicin pada cabai itu terdapat pada bagian plasenta buah cabai yang bentuknya mirip bunga karang yang menjadi penghubung antar biji di dalam buah cabai.

Keberadaan capsaicin pada cabai itu sendiri dikendalikan oleh gen, sehingga kadarnya pada masing-masing varietas cabai juga akan berbeda. Selain dikendalikan secara genetis, kondisi lingkungan yang mencakup iklim dan tanah tempat cabai tumbuh juga turut berpengaruh terhadap derajat kepedasannya.

Untuk mengetahui tingkat kepedasan atau kandungan capsaicin pada cabai, skala yang digunakan adalah Scoville Heat Unit (SHU), dimana 1 ppm capsaicin setara dengan 15 SHU. Dengan skala tersebut, capsaicin murni tercatat mengandung 15 juta Scoville.

Dari catatan Journal of the American Pharmacist Association seperti dimuat dalam buku “Cabai” terbitan PT Trubus Swadaya, hingga saat ini yang tercatat sebagai cabai paling pedas adalah jenis blut jolokia dari Assam, India yang memiliki skala kepedasan mencapai 1.041.427 SHU.

Selain capsaicin sebagai capsaicinoid utama yang terkandung dalam cabai, terdapat senyawa kimia lain dari golongan yang sama dalam cabai, yaitu dihidrocapsaicin. Dua senyawa kimia tersebut sama-sama memberikan sensasi rasa pedas dan panas saat bersentuhan dengan jaringan tubuh.

Banyak manfaat
Selain bisa merangsang hormon endophrin yang membangkitkan sensasi kenikmatan, keberadaan capsaicin pada cabai juga bisa bermanfaat lebih bagi tubuh. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa capsaicin dapat menghalangi bahaya di sel trachea, bronchial, dan bronchoconstriction yang disebabkan oleh asap rokok dan polusi udara lainnya. Oleh karena itu, cabai sangat baik dikonsumsi bagi penderita asma dan hipersensitif udara.

Kandungan zat mucokinetik pada capsaicin, seperti ditulis dalam buku “Cabai” yang diterbitkan PT Trubus Swadaya, juga terbukti ampuh untuk mengatur, mengurangi, dan bahkan mengeluarkan dahak atau lendir yang ada dalam paru-paru. Sehingga dengan mengkonsumsi cabai, para penderita sinusitis dan bronchitis bisa terbantu untuk mengeluarkan lendir.

Selain itu, capsaicin juga mampu menurunkan bobot tubuh penderita obesitas alias kegemukan yang saat ini menjadi salah satu momok dari perubahan gaya hidup masyarakat dunia modern. Manfaat lain dari capsaicin adalah menstimulasi detektor panas pada kelenjar hypothalamus otak, sehingga memberikan efek tetap sejuk meskipun berada dalam kondisi udara yang panas.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).