INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

SINERGI SEMPURNA BENFURON DENGAN TABELA

Sistem tanam Tabela sudah begitu jamak ditemui di Sulawesi Selatan, dan petani padi di sana selalu mengkombinasikannya dengan herbisida khusus padi, seperti Benfuron 12/18WP, untuk mengendalikan bibit-bibit gulma agar tidak berkembang.

Bagi petani padi yang sudah terbiasa menggunakan sistem Tabela atau tanam benih langsung, permasalahan gulma akan selalu menjadi perhatian utama. Pasalnya, dalam sistem Tabela pertumbuhan gulma cenderung lebih dominan. Sehingga potensi penurunan hasil akibat keberadaan gulma itu pun akan lebih besar jika dibandingkan dengan sistem tanam pindah atau Tapin.

Seperti data yang pernah dirilis Balai Besar Tanaman Padi Sukamandi, Jawa Barat, penurunan hasil akibat serangan gulma pada sistem Tabela bisa mencapai 96%. Sementara pada sistem tanam pindah, gulma yang tidak disiangi bisa menurunkan hasil panen sekitar 48%.

Menurut Iswadi, Market Development Pesticides PT Tanindo Intertraco Area Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara, cukup wajar kiranya jika potensi kerugian akibat keberadaan gulma pada sistem Tabela itu lebih besar dibanding sistem Tapin. Karena, dalam sistem ini benih padi sudah bersaing sejak dini dengan gulma.
Alhasil, jika tidak segera dikendalikan maka pertumbuhan gulma akan lebih mendominasi dan merugikan tanaman padi yang baru tumbuh.

“Karena, sifat gulma itu sendiri juga lebih mudah tumbuh dalam segala kondisi lingkungan. Selain itu, dalam sistem Tabela, air harus dimasukkan lebih awal ke lahan sawah sebelum benih padi ditanam. Sehingga biji-biji gulma akan berkecambah dan tumbuh lebih awal, mendahului pertumbuhan tanaman padi,” ujar Iswadi.

Lantaran itulah, para petani padi sistem Tabela umumnya sudah mengantisipasi permasalahan tersebut dengan menggunakan herbisida khusus padi yang efektif mengendalikan serangan gulma sejak dini. Seperti yang dilakukan petani padi Tabela di beberapa sentra padi Sulawesi Selatan, seperti Kabupaten Sidrap, Pinrang, dan Wajo.

“Di sini setiap kali tanam padi pasti pakai herbisida, terutama yang tanam dengan sistem tabela. Beberapa hari setelah tanam benih padi biasanya langsung disemprot herbisida,” ujar Junaidi, petani padi di Desa Rijang Panuah, Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap.

Menurut Junaidi, dalam penggunaan herbisida khusus padi tersebut, kebanyakan petani seperti dirinya selalu mempertimbangkan daya berantas yang kuat sekaligus aman bagi tanaman padi yang dibudidayakan. “Karena, penyemprotannya kan dilakukan saat tanaman padi baru tumbuh. Kalau herbisidanya tidak aman, padinya bisa ikut mati kena semprot,” katanya.

Benfuron dan tabela
Herbisida khusus padi yang ampuh sekaligus aman bagi tanaman padi sudah menjadi syarat mutlak dalam sistem tabela. Oleh karena itu tidak semua herbisida bisa cocok untuk sistem tabela.

Menurut Iswadi, di sejumlah sentra padi tabela Sulawesi Selatan sekarang ini mulai banyak petani yang menggunakan Benfuron 12/18WP, herbisida sistemik yang dikhususkan untuk mengendalikan gulma padi.

“Benfuron 12/18WP mengandung dua bahan aktif sekaligus, yaitu metil bensulfuron 12% dan sodium bispiribak 18%. Oleh karena itu, herbisida ini lebih efektif untuk mengendalikan beragam gulma pada tanaman padi, mulai dari teki-tekian, semanggi, sampai jajagoan,” ujar Iswadi.

Keefektifan herbisida dari Cap Kapal Terbang itu diakui Kami’, petani padi di Desa Mapadelok, Kecamatan Tanah Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. “Hasilnya sangat bagus. Dengan dosis dua bungkus per tangki gulma bisa mati semua,” terangnya.

Selain efektif, lanjut Kami’, Benfuron 12/18WP juga sangat aman bagi tanaman padi. Bahkan, Kami’ sendiri pernah mencoba menggunakan hingga empat bungkus Benfuron 12/18WP per tangki, dan hasilnya tetap aman bagi tanaman padi.

“Saya memang mau mencoba sendiri dosis yang pas untuk di daerah saya. Ternyata, kalau hanya pakai satu bungkus per tangki masih kurang bagus hasilnya, dua bungkus per tangki baru mati semua. Bahkan saya juga coba sampai empat bungkus per tangki, hasilnya masih tetap aman di tanaman padi,” ujar Kami’ yang mengaplikasikan Benfuron 12/18 WP dua minggu setelah tanam.

Sementara bagi H. Yusuf, petani padi tabela dari Desa Boki, Kecamatan Tiroang, Kabupaten Pinrang, mengatakan, keamanan Benfuron 12/18WP pada tanaman padi juga ia buktikan saat herbisida tersebut diaplikasikan pada tanaman padi yang baru berumur 2 hari setelah tanam tabela.

“Pernah aplikasi dua bungkus per tangki pada tanaman padi yang berumur dua hari setelah tanam tabela. Tanaman padinya masih aman dan tidak ada yang mati. Sementara gulmanya tidak ada yang tumbuh sama sekali, aman sampai panen,” kata Yusuf.

Subhan, petani padi dari Desa Rijang Panua, Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap juga membenarkan keefektifan Benfuron 12/18WP dalam sistem tabela yang ia gunakan. Menurutnya, dengan dosis yang hanya satu bungkus (5 gram) per tangki, sudah cukup untuk mengantisipasi tumbuhnya gulma pada pertanaman padi.

“Kalau di sini, lahan sawah tidak pernah dikeringkan, karena termasuk lahan tadah hujan. Sehingga begitu ada air ya tidak akan dibuang lagi. Saat mulai tanam tabela, ketinggian airnya rata-rata 10 cm, dan biasanya Benfuron disemprotkan sebelum atau sesudah tanaman padi tumbuh, hasilnya sama bagusnya,” ujar Subhan.

Sementara menurut Mudjahiddin, General Manager Pesticide Product Development PT Tanindo Intertraco, dengan kandungan dua bahan aktif sekaligus dalam satu formulasi tersebut memberikan keuntungan tersendiri bagi para petani padi. Pasalnya, selain bisa lebih berhemat, petani juga bisa mengendalikan lebih banyak gulma pada tanaman padi dibanding herbisida padi lainnya.

“Dengan Benfuron 12/18WP, petani bisa mendapat hasil yang lebih optimal dalam sekali aplikasi. Dosisnya pun juga lebih hemat dan irit,” terang Mudjahiddin.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).