 Mengutip pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) RI Suswono saat membuka Pekan Flori dan Flora Nasional (PF2N) 2012 di Medan (20/6), pemerintah akan membatasi impor sejumlah komoditas pertanian dari luar negeri yang selama ini sudah membanjiri pasar Indonesia. Menurut Mentan, hal itu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk melindungi para petani dari serbuan komoditas impor, baik tanaman pangan maupun hortikultura. Tidak bisa dipungkiri, produk-produk pertanian impor, seperti buah dan sayuran, sudah sangat familier kita jumpai di berbagai supermarket. Bahkan di pasar-pasar tradisional dan toko kelontong pun juga ada. Dan herannya, harganya kebanyakan dipatok lebih murah dibanding buah dan sayuran dalam negeri. Selain itu, konsumen sepertinya juga lebih menyukai produk impor dibanding produk dalam negeri. Masalah gengsi menjadi alasannya disamping faktor harga yang lebih murah.
Pun demikian dengan komoditas tanaman pangan. Jagung misalnya, meskipun secara stastistik produksi jagung kita melimpah hingga 18 juta ton/tahun (BPS 2011), impor jagung masih tetap berjalan, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri pakan ternak. Padahal menurut Mentan, kebutuhan industri pakan ternak hanya sekitar 7 juta ton.
Alasan harga kembali menjadi salah satu pertimbangan para pelaku usaha pakan ternak. Meskipun pada prinsipnya mereka lebih menyukai jagung dari para petani sendiri, namun karena terkendala persoalan kepastian pasokan dan biaya transportasi yang berimbas pada harga yang lebih tinggi, akhirnya mereka pun memilih melakukan impor.
Membenahi manajemen sekaligus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi komoditas pertanian dalam negeri sudah seharusnya dilakukan untuk mengatasi masalah itu. Mentan Suswono menyebut, sebenarnya produk hortikultura kita sudah mampu bersaing dengan produk impor, bahkan secara kualitas masih lebih bagus karena jauh lebih segar dan sehat. Hanya karena manajemen produksinya masih belum tertata dengan baik, akhirnya kalah bersaing.
Sarana dan prasarana yang berhubungan dengan pertanian pun juga harus dibenahi, terlebih yang berkaitan dengan kelancaran pemasaran komoditas hasil panen para petani. Semisal, perbaikan infrastruktur jalan untuk kemudahan akses ke pasar. Semakin cepat aksesnya, maka kualitas hasil panen dari petani juga akan lebih baik.
Oleh karena itu, pada edisi kali ini, kami mencoba menyajikan sejumlah komoditas tanaman pangan dan hortikultura yang bisa dijadikan rujukan para pembaca sekalian yang ingin mencoba berkiprah di bidang usaha tani ataupun yang ingin mengembangkan usaha taninya. Di antaranya adalah jagung super hibrida BISI 222 dan cabai hibrida terbaru Imperial 10 yang berhasil membuat ‘kegaduhan’ di tengah-tengah petani dan pedagang. Semoga apa yang coba kami sajikan kali ini bisa memberikan manfaat bagi pembaca semuanya.
VCD BUDIDAYA : Info : Untuk pemesanan silahkan transfer ke Rekening PT. Tanindo Intertraco BCA Cabang Tunjungan Surabaya 0148989888. Untuk ongkos kirim Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan, Sulawesi : Rp.10.000,00 sedangkan wilayah Maluku, NTB, NTT, Papua : Rp. 20.000,00. |