
Diakui atau tidak, ketergantungan atau fanatisme yang berlebihan dari para petani kita terhadap komoditas tertentu sebagai sumber pendapatan utama pada akhirnya bisa membawa kesulitan tersendiri bagi mereka. Terlebih di saat komoditas favorit mereka banyak terkendala faktor iklim.
Komoditas tanaman pangan misalnya, akibat gejolak iklim yang terjadi akhir-akhir ini sedikit banyak telah menggoyahkan produksi. Padi dan jagung sebagai komoditas utama tanaman pangan di Indonesia mengalami penurunan produksi yang memaksa pemerintah untuk melakukan impor beras dan jagung untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus menjaga harga di pasaran agar tidak melambung terlalu tinggi.
Bukan hanya pemerintah yang dibuat pusing, petani pun lebih pusing lagi. Pasalnya, bukan hanya pusing karena panenan mereka menurun, tetapi pendapatan dan kelangsungan hidup mereka juga terancam. Bagaimanapun mereka telah menggantungkan hidupnya pada usaha tani komoditas tanaman pangan secara turun temurun.
Bisa jadi, berubahnya pola musim dan iklim itu menjadi pukulan telak bagi petani, utamanya petani padi dan jagung. Meskipun mereka bisa panen, hasilnya belum tentu bisa terjual sesuai dengan harapan. Kondisi dan kualitas panen menjadi kendalanya. Belum lagi jika petani harus menanggung kerugian besar akibat gagal panen karena tanaman mereka tergenang ataupun terserang hama penyakit.
Mencoba menanam komoditas lain yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi sebagai pendamping komoditas pangan bisa menjadi alternatif solusi yang baik. Terutama komoditas yang tidak terlalu banyak terpengaruh gejolak iklim.
Seperti disampaikan Prof. Ariffin, Rektor Universitas Trunojoyo Bangkalan, komoditas-komoditas eksotis seperti anggrek dan bunga hias lainnya bisa menjadi pilihan. Selain itu, tanaman penghasil minyak atsiri, seperti nilam, juga bisa diandalkan. Selain tidak terlalu terpengaruh kondisi cuaca dan iklim, komoditas itu juga bernilai ekonomis tinggi.
Komoditas sayuran sebenarnya juga bisa dijadikan pilihan, terutama yang bernilai ekonomis tinggi seperti cabai dan tomat di kawasan dataran tinggi. Apalagi harga cabai saat ini yang terus melambung tinggi, tentunya menjadi harapan bagus bagi petani. Namun dengan catatan, teknis budidayanya menjadi lebih intensif mengingat kondisi cuaca yang cenderung ekstrim.
Oleh karena itu, sudah saatnya petani juga harus berpikir untuk mencoba komoditas lain sebagai pendamping dan sumber pendapatan baru di tengah kondisi cuaca dan iklim yang serba tidak menentu ini.
Dalam edisi kali ini, redaksi mencoba mengangkat permasalahan tersebut dengan menyajikan sejumlah rubrik terkait. Seperti, wawancara khusus dengan Prof. Ariffin seputar peluang dan kiat usaha tani di tengah gejolak iklim yang tidak menentu. Kemudian kami juga coba menyajikan usaha tani seputar jagung manis Master Sweet yang terkenal dengan ukuran tongkolnya yang besar dan manis, dan juga tomat Royal yang menjadi harapan baru bagi petani tomat di dataran tinggi karena biaya perawatannya lebih murah dengan hasil yang lebih melimpah.
Selain itu, masih ada rubrik menarik lainnya yang ikut melengkapi edisi kali ini. Semoga apa yang kami sajikan bisa memberikan manfaat bagi para pembaca sekalian.
VCD BUDIDAYA :
Info : Untuk pemesanan silahkan transfer ke Rekening PT. Tanindo Intertraco BCA Cabang Tunjungan Surabaya 0148989888. Untuk ongkos kirim Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan, Sulawesi : Rp.10.000,00 sedangkan wilayah Maluku, NTB, NTT, Papua : Rp. 20.000,00.