 Pola iklim global saat ini disebut tengah mengalami pergeseran yang berdampak pada banyak sektor, terutama pertanian. Sejauh mana pengaruhnya dan peluang apa yang bisa diambil dari gejolak iklim tersebut, berikut petikan wawancara Abdi Tani dengan Prof. Dr. Ir. H. Ariffin, MS., Guru Besar Agroklimatologi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang sekaligus Rektor Universitas Negeri Trunojoyo Bangkalan. Seperti kita ketahui pola iklim dunia saat ini tengah mengalami perubahan, bahkan banyak ahli mengatakan perubahannya cukup ekstrim hingga mempengaruhi banyak sektor, terutama pertanian. Seperti apa Anda melihatnya? Perubahan cuaca dan iklim memang secara langsung berdampak pada produk-produk pertanian. Karena pada prinsipnya kehidupan tanaman itu tidak bisa terlepas dari kondisi cuaca, musim, maupun iklim yang ada. Masalahnya, perubahan yang terjadi sekarang ini boleh dibilang sangat komplek. Di samping karena pengaruh aktivitas lokal, juga karena ada sistem pergerakan udara secara global yang mempengaruhi semuanya.
Dari sudut pandang agroklimat sendiri, apakah pergeseran pola iklim ini masih tergolong normal, dalam artian merupakan siklus yang memang rutin terjadi?
Sebetulnya ini ada kaitannya dengan fenomena perubahan siklus sistem pergerakan udara secara global di kawasan sub tropis. Seperti kita tahu akhir-akhir ini sering muncul badai di kawasan ini. Sebenarnya badai di kawasan sub tropis tersebut tidak langsung mengenai kawasan tropis Indonesia, namun efeknya mempengaruhi pola cuaca dan iklim di Indonesia. Namun yang perlu diperhatikan adalah faktor sistemiknya. Artinya perubahan iklim yang diakibatkan oleh akumulasi aktivitas-aktivitas manusia yang mempengaruhi keseimbangan atmosfer. Pemanasan global misalnya, ini merupakan efek sistemik dari aktivitas manusia yang melepaskan gas-gas buangan yang dikenal dengan sebutan gas rumah kaca, seperti CO2 dan NO2. Gas-gas ini bisa bertahan lama di atmosfer. CO2 bisa sampai 10 tahun, bahkan NO2 bisa sampai 25 tahun. Apabila gas rumah kaca itu terus menerus menumpuk di atmosfer, maka perubahan pola iklim di dunia ini akan tetap terjadi seperti ini.
Sejauh apa pengaruhnya bagi sektor pertanian sendiri?
Yang pasti, perubahan cuaca dan iklim itu akan mempengaruhi beberapa aspek. Tentu saja yang paling terpengaruh adalah produksi atau kuantitas hasil produk pertanian. Komoditas pertanian yang sangat tergantung pada kondisi cuaca dan iklim, hasilnya bisa dipastikan akan terganggu.
Sebenarnya pengaruh terhadap aktivitas tanaman ini bisa positif dan bisa juga negatif. Pengaruh positifnya adalah, meskipun dalam kondisi kemarau basah, apabila tanaman dimanage dengan baik, maka tanaman akan diuntungkan. Karena kebutuhan air tanaman bisa tercukupi dengan baik, sementara sinar matahari juga masih optimal. Artinya, dua komponen utama pertumbuhan dan perkembangan tanaman, yaitu air dan sinar matahari, sudah bisa tercukupi. Sehingga produksi tanaman bisa meningkat.
Tapi dengan tidak menentunya hujan yang datang, bisa mengganggu proses penyerbukan dan pembuahan tanaman. Misalnya pada tanaman mangga. Hujan yang turun dengan intensitas cukup besar kemudian berhenti, biasanya akan merangsang pembungaan. Namun, meskipun pembungaannya bagus sementara curah hujan yang turun tidak menentu, maka hal ini bisa mempengaruhi proses penyerbukan. Potensi kegagalannya menjadi lebih tinggi.
Bagaimana seharusnya kita menyikapi hal ini?
Yang harus kita lakukan adalah bagaimana melakukan budidaya yang seimbang dan selaras dengan kondisi iklim. Menurut saya, dua komponen ini masih belum bisa seimbang. Saat ini yang menjadi perhatian utama hanyalah bagaimana menciptakan teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi, tanpa memperhatikan atau membekali diri untuk menghadapi situasi perubahan cuaca dan iklim yang terjadi.
Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah bagaimana kita memberikan wawasan atau melakukan tindakan untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin bisa terjadi dan mempengaruhi produksi. Misalnya, dalam hal menanam padi atau jagung. Untuk teknik budidaya kita sudah pasti tahu. Namun yang sering tidak kita perhatikan adalah faktor-faktor lingkungan apa yang bisa mengakibatkan gangguan produksi tanaman.
Tanaman jagung misalnya, kalau terlalu banyak tergenang air, maka gangguan penyakit pun, seperti bulai, akan muncul. Gangguan ini sebetulnya kan akibat sistem drainase yang jelek. Selama ini kita hanya berpikir bagaimana menggunakan varietas ini, pupuk ini, demi meningkatkan produksi. Sementara aspek penting lainnya, seperti mengatur drainase tadi, sering diabaikan.
Apakah ini berarti produsen benih juga harus berusaha untuk merakit varietas yang toleran dengan kondisi lingkungan yang ekstrim?
Betul. Kita juga harus bisa menyiapkan varietas yang memiliki daya tahan, baik itu daya tahan terhadap kekeringan maupun daya tahan terhadap kondisi kelebihan air. Namun hal ini juga harus ditunjang dengan adanya pengawalan teknologi yang baik.
Lantas bagi petani, bagaimana mereka harus bersikap menghadapi fenomena perubahan iklim ini?
Yang pasti jangan terlalu terburu-buru untuk percaya dengan musim hujan. Karena musimnya tidak menentu. Kelihatannya hujan, tapi setelah itu tidak ada. Jangan sampai petani salah tanam, atau istilah jawanya kecelik. Untuk itu petani juga harus diajari dan dibiasakan membaca data-data cuaca dari para ahli, agar usaha taninya lebih terukur dan terarah.
Selain itu petani juga harus pandai memilih komoditas. Yakni komoditas yang sesuai dengan kondisi cuaca dan iklim. Jangan hanya menggantungkan diri pada komoditas tertentu, seperti padi atau jagung. Mungkin untuk daerah yang beririgasi baik tidak masalah, namun bagi daerah-daerah marginal tadah hujan misalnya, tentu menjadi masalah tersendiri.
Untuk kawasan tadah hujan yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan menerapkan sistem gogo rancah. Yakni dengan menanam padi gogo saat kering dan saat hujan turun cukup besar bisa dijadikan padi sawah. Cuman masalahnya, tidak mudah untuk meminta petani beralih komoditas. Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mensinkronkan dua kepentingan, yakni antara peningkatan produksi sekaligus dengan tetap memperhatikan dan menjaga aspek lingkungan seperti faktor iklim ini?
Sebetulnya peran pemerintah adalah sebagai regulator dan motivator. Hanya saja kesulitan yang dihadapi pemerintah adalah kalau harus membatasi petani untuk tidak menanam komoditas tertentu, hal ini tidak akan pernah bisa. Pasalnya petani berpikirnya ini lahan saya sendiri dan kalaupun nanti rugi pemerintah tidak akan ikut menanggungnya.
Bagaimanapun, di samping tetap menggelontorkan program-program peningkatan produksi pertanian nasional, pemerintah juga harus terus berupaya untuk melakukan pendekatan kepada para petani agar konsep budidaya tanaman berbasis iklim itu bisa berjalan dengan baik.
Peran penyuluh pertanian yang bersentuhan langsung dengan petani harus lebih ditingkatkan, terutama dalam mensosialisasikan konsep pertanian yang selaras dengan perkembangan iklim.
Hikmah dan peluang apa yang bisa diambil dari gejolak iklim ini?
Menurut saya hikmahnya banyak. Paling tidak masyarakat sudah mulai menyadari bahwa semua ini akibat dari ulah manusia sendiri. Saya rasa inilah hikmah yang paling besar. Nah, sekarang tinggal bagaimana manusianya sendiri, setelah sadar seperti itu apakah mau berubah dan berbuat untuk menghindarinya atau tidak.
Kemudian hikmah yang kedua adalah dengan perubahan iklim ini dunia pertanian harus berpikir lebih jauh lagi bahwa kita memiliki kekayaan plasma nutfah yang cukup banyak dan belum banyak tereksplorasi, padahal memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Misalnya, tanaman-tanaman yang memiliki kandungan minyak atsiri tinggi, seperti nilam dan sebagainya. Tanaman ini bernilai ekonomis tinggi dan lebih bisa surfive pada kondisi lingkungan yang ekstrim sekalipun.
Contohnya lagi adalah aneka macam tanaman hutan seperti anggrek, gelombang cinta, dan lain-lain. Semuanya itu kan bukan tanaman yang selama ini kita budidayakan. Namun setelah diangkat melalui media massa, tanaman-tanaman hutan itu menjadi bernilai ekonomis tinggi. Dari sinilah kita sadar bahwa di alam ini masih banyak komoditas lain yang bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomis tinggi sekaligus lebih tahan terhadap kondisi iklim yang berubah-ubah.
Seperti apa kongkritnya?
Kalau kita bicara tanaman pangan, skalanya kan lokal atau regional saja. Namun kalau kita memiliki komoditas bernilai ekonomis tinggi, berpikir kita sudah tidak lokal regional lagi, tapi sudah global. Kalau kita berpikir untuk meningkatkan pendapatan petani dengan hanya berorientasi pada pasar lokal saja, maka kita hanya akan terbatas di situ saja. Lain lagi kalau skalanya lebih luas, apalagi skala global, daya saing dan pendapatan petani akan jauh lebih tinggi. Untuk itulah jika ingin meningkatkan pendapatan petani kita harus berhijrah dari pola subsisten ke pola agroindustri atau agribisnis.
Petani harus diajari bagaimana mengembangkan komoditas selain tanaman pangan yang bernilai jual lebih tinggi. Kalau untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari silahkan tetap menanam komoditas pangan, tapi untuk mendapatkan penghasilan lebih, petani harus mengusahakan komoditas yang memiliki nilai jual tinggi dan mampu bersaing bebas di pasar global.
Sudah saatnya para sarjana pertanian ataupun mahasiswa pertanian menyiapkan diri menjadi petani modern melalui pengembangan jiwa enterpreuner di bidang agrobisnis, sehingga bisa menjadi pioner kemajuan sektor pertanian yang berdaya saing.
Revitalisasi pendidikan pertanian yang menuju ke arah dihasilkannya sarjana atau ahli madya pertanian yang berjiwa agroenterpreuner harus ditindaklanjuti secara serius. Ini tidak bisa hanya dilakukan oleh lembaga pendidikan pertanian saja, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama berbagai pihak, di antaranya pemerintah sebagai regulator melalui kebijakan pasar, fiskal, dan lain-lain, Kementerian Pertanian selaku pemangku tanggung jawab masyarakat petani, kemudian lembaga keuangan sebagai penjamin dana, dan kalangan industri sebagai pengguna produk pertanian.
Kerjasama antara para penyandang dana dengan pemerintah mutlak diperlukan untuk bersama-sama mendorong perusahaan besar agar mengalokasikan dana CSR (Corporate Social Responsibility)-nya kepada lembaga pendidikan yang bergerak di bidang pertanian untuk mendidik sekaligus mencetak kader-kader agroenterpreuner melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, pemberian modal usaha, dan pendampingan usaha. Di sini pemerintah berperan sebagai fasilitator dan regulator terutama dalam kaitannya dengan permodalan, pembimbingan, dan pasar produk hasil-hasil pertanian. Karena, hal ini merupakan permasalahan yang sangat serius yang dihadapi oleh calon wirausahawan baru. (AT : Vol. 12 No. 1 Edisi XLI, Januari - Maret 2011)
|